“Bullying” Ganggu Proses Tumbuh Kembang Remaja


Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini sedang marak kasus kekerasan terhadap anak atau remaja yang dikenal dengan istilah bullying di sekolah. Perilaku agresif dengan ciri melakukan kekerasan secara berulang bisa dalam bentuk berupa kekerasan fisik, sosial, dan verbal. Dokter Spesialis Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UGM/RSUP Dr. Sardjito, Prof. dr. Djauhari Ismail, Ph. D., Sp. A(K) mengatakan Bullying di kalangan remaja berpotensi dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak dan remaja. “Untuk itu, hal ini harus ditangani secara serius,” kata  Djauhari dalam Seminar yang bertajuk Bullying pada Remaja di ruang Auditorium Fakultas Kedokteran UGM, Sabtu (28/2).
Menurut Djauhari, remaja mengalami tumbuh kembang secara fisik saat memasuki masa puber, perubahan kemampuan kognitif dan mengalami perubahan psikososial remaja dimana terjadi konflik pencarian jati diri. Bila proses pencarian jati diri ini gagal, kata Djauhari, yang terjadi adalah remaja mulai meragukan peranan dan fungsi dirinya di tengah masyarakat. Sifat yang muncul akhirnya menonjolkan diri, suka bermusuhan, egoistik, merendahkan orang lain, dan buruk sangka. “Jika berhasil, maka remaja mampu menyesuaikan diri, diterima, simpati, bekerjasama, mudah akrab, dan disiplin,” katanya.
Dari sisi pelaku bullying, dr. Ratna Dewi . Sc., Sp. KJ. dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soerojo Magelang berpendapat  pelaku bullying umumnya mengalami kelainan psikis. Kejadianbullying bisa terjadi akibat tidak adanya tindakan dari orang dewasa dan adanya tempat yang tak terawasi saat bullying berlangsung. Umumnya pelaku memilih korban yang memiliki karakter pasif, sering menyendiri, mudah menangis, kemampuan sosial rendah, pemalu, dan sensitif. “Korban yang memiliki karakter tampak sedih dan hanya punya teman sedikit serta tidak mampu melindungi diri sendiri juga menjadi sasaran dari pelaku bullying,” katanya.
Untuk mencegah tindakan bullying menurutnya perlu menjadi perhatian dari keluarga dan pihak – pihak terkait, dalam hal ini adalah sekolah. “Karena memiliki dampak psikiatrik yang banyak, emosi, fisik, akademik, kepercayaan diri, perilaku koban, psikotik, dan dampak terburuknya adalah bunuh diri,” katanya.
Budiono Santoso, dari Yayasan Saworo Tino Triatmo (YASATRI) menuturkan pencegahan kekerasan di kalangan remaja harus ditangani secara serius melibatkan pihak sekolah, orang tua dan masyarakat. Orang tua dan masyarakat harus memahami pentingnya upaya pencegahan kekerasan yang terjadi di sekolah. Budiono menambahkan, pencegahan lebih baik dibanding pengendalian. Berdasarkan statistik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kecelakaan lalu lintas dan kekerasan merupakan penyebab kematian terbesar kelompok remaja di Indonesia.

Sumber : http://www.ugm.ac.id/id/berita/9785-%E2%80%9Cbullying%E2%80%9D.ganggu.proses.tumbuh.kembang.remaja

0 komentar: